Monthly Archives: August 2016

Rambut Hijau Uya Kuya



Uya Kuya kerap mengubah tampilan rambutnya tersebut. Seperti saat menghadiri suatu acara di kawasan Cawang, ia tampil dengan rambut hijaunya. Disadur Dari http://hot.detik.com/celeb/d-3288129/rambut-hijau-uya-kuya

XL Geber 4,5G, Bisa Tembus 200 Mbps


Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mencanangkan Indonesia sudah menerapkan koneksi 4,5G saat Asian Games digelar 2018. XL Axiata coba mewujudkan hal tersebut lebih awal.

Operator yang identik berwarna biru itu telah menyelimuti empat daerah di Indonesia dengan jaringan 4,5G. Adapun daerah yang dimaksud adalah Jakarta, Bandung, Surabaya dan Denpasar.

Implementasi jaringan 4,5G dimungkinkan karena XL telah mengimplementasikan teknologi 4 sinyal transmit dan 4 sinyal receive atau 4T4R. Dengan teknologi tersebut, kecepatan internet XL diklaim mampu melaju lebih kencang.

“Kapasitas BTS naik 20% dibandingkan sekarang. Kecepatannya bisa menembus 200 Mbps,” kata Rahmadi Mulyihartono, Vice President LTE XL Axiata saat berdiskusi dengan sejumlah media di Menara Prima, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Namun untuk menikmati keunggulan tersebut, dibutuhkan perangkat yang mendukung jaringan 4,5G. Sayangnya, saat ini jumlahnya masih dihitung dengan jari.

“Ponsel 4,5G bakal banyak hadir di 2017. Saat ini cuma home router saja,” terang Rahmadi.

Pelanggan Tumbuh

Sejak mengimplementasikan jaringan 4G pada 2015, kini XL memiliki 6.522 BTS yang menyebar di 86 kota di Indonesia. Hingga akhir tahun mereka menargetkan dapat menancapkan 1.982 BTS 4G lagi sehingga dapat menyelimuti 92 kota di Tanah Air.

“Akhir tahun akan kami selesaikan kira-kira 8.504 BTS 4G, tapi kemungkinan bisa ditambah tergantung potensi jumlah perangkat yang ada di market. Spektrum pun akan kami upgrade ke 20 MHz di sejumlah kota besar,” ungkap Rahmadi.

Tidak ketinggalan, XL juga menginstalasi perangkat pemancar High Capacity SmallCell di sejumlah tempat untuk meningkatkan kualitas layanan di dalam ruangan, misalnya di bandara Soekarno Hatta. Jumlah SmallCell yang dipasang disesuaikan jumlah pelanggan di suatu area.

Bicara jumlah pengguna sendiri, saat ini XL mengklaim memiliki 8 juta pelanggan 4G. Secara nasional, pelanggan 4G XL meningkat sekitar 10% dibandingkan periode dari triwulan pertama 2016. Peningkatan jumlah pelanggan salah satunya didorong oleh kehadiran paket Combo Xtra yang menawarkan bonus koneksi di jaringan 4G.

Dari sisi trafik data, XL mengalami pertumbuhan trafik data yang terbesar dibandingkan para kompetitor. Kenaikan trafik data XL secara total mencapai sekitar 1.500 TB per semester pertama 2016. Ini meningkat sekitar 123% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, khusus trafik data 4G, mencapai 395 TB.

“Dibandingkan operator lain, XL mengalami pertumbuhan yang paling besar, mencapai 123%,” pungkas Rahmadi.
(afr/ash)

Disadur Dari http://inet.detik.com/read/2016/08/31/191356/3288137/328/xl-geber-45g-bisa-tembus-200-mbps

Luhut Minta Solar Non Subsidi Juga Wajib Dicampur Biodiesel


Jakarta -Pemerintah telah mewajibkan para pemegang izin usaha niaga bahan bakar minyak (BBM) untuk mencampur solar dengan 20% bahan bakar nabati (BBN) alias biodiesel. Program ini dikenal dengan nama B20.

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana, hari ini dipanggil oleh Menko Kemaritiman sekaligus Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan, untuk melaporkan perkembangan program B20.

“Evaluasi biodiesel saja sama Pak Menteri,” kata Rida usai rapat di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Kepada Rida, Luhut memberi arahan agar program B20 tidak hanya menyasar solar subsidi (Public Service Obligation/PSO) saja, tapi juga solar non subsidi.

Saat ini, baru solar subsidi saja yang dicampur biodiesel 20%, karena sudah ada subsidi untuk biodiesel dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sawit. Sementara untuk solar non PSO, belum ada subsidi biodiesel.

“Cuma melaporkan saja (program B20), cuma ada tugas bagaimana kalau ke non PSO lebih diintensifkan tanpa menambah subsidi. Itu yang ditugaskan beliau untuk dikaji, ekuilibriumnya seperti apa,” ucap Rida.

Masih harus dicari solusi agar solar non PSO juga bisa menjalankan mandatori B20. Kalau dipaksakan menjalankan B20 tanpa adanya subsidi, harga solar non PSO akan jadi makin mahal akibat tingginya harga biodiesel.

Konsumen terbesar solar non PSO adalah industri. Kalau solar untuk industri mahal, tentu daya saing industri jadi berkurang. Maka harga solar non PSO harus dijaga jika harus dicampur biodiesel juga.

“Produsen CPO (Crude Palm Oil) ingin itu (mandatori B20) dijalankan. Tapi kalau dipaksakan, nanti harga solar non PSO jadi naik, kurang kompetitif industrinya, malah nggak laku. Keseimbangannya ini harus kita kaji ulang,” papar Rida.

BPDP sawit, sambungnya, telah menyiapkan beberapa skenario agar mandatori biodiesel juga dapat dijalankan untuk solar non subsidi. Opsi-opsi ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam waktu dekat. “Di BPDP ada 7 skenario, nanti besok lusa didiskusikan lagi dengan pihak-pihak terkait,” pungkasnya.

Disadur Dari http://finance.detik.com/read/2016/08/31/191500/3288138/1034/luhut-minta-solar-non-subsidi-juga-wajib-dicampur-biodiesel

DP Rumah Pertama Jadi 15%, BI: Penyaluran KPR Bisa Naik 3,7%


Jakarta -Bank Indonesia (BI) kembali melakukan pelonggaran kebijakan rasio Loan to Value (LTV) dengan menurunkan uang muka atau Down Payment (DP) KPR rumah pertama menjadi 15%. Penurunan DP KPR rumah kedua dan ketiga juga turun masing-masing menjadi 20% dan 25%.

Dengan dilonggarkannya rasio LTV, BI optimistis pertumbuhan KPR bertambah 3,7% year on year (yoy) hingga semester I-2017. Sepanjang semester I-2016, pertumbuhan KPR mencapai 8,0%, sehingga diperkirakan pertumbuhan KPR hingga semester I-2017 menjadi 11,7%.

“Dengan adanya penurunan DP ini, KPR bisa tumbuh 3,7%,” terang Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Filianingsih Hendarta saat jumpa pers di Gedung Thamrin Kompleks BI, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Ia menambahkan, proyeksi tersebut didasarkan pada hitungan kasar saat BI melakukan perencanaan di bulan Juni.

“Pada saat menghitung 3,7% itu kan kita ngomong satu tahun yoy bisa berapa. Itu data harus dikalibrasi lagi. Itu kan Juni, dari Juni sampai sekarang kan sudah ada perubahan suku bunga, berubah nilai tukar berubah, dan yang lainnya,” tambah dia.

Dirinya menambahkan bahwa berbagai kemungkinan masih bisa terjadi dengan pengaruh eksternal. Misalnya pengaruh brexit hingga kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. Berbagai kemungkinan dapat mempengaruhi pertumbuhan KPR di dalam negeri.

“Kalau tren suku bunga turun nanti kami akan hitung lagi. Pada saat harga komoditi membaik itu juga akan berpengaruh. Saat The Fed menaikkan suku bunganya dan brexit akan berpengaruh juga,” kata Filianingsih.

Disadur Dari http://finance.detik.com/read/2016/08/31/192058/3288143/5/dp-rumah-pertama-jadi-15-bi-penyaluran-kpr-bisa-naik-37