Komnas HAM Kritik RUU Terorisme yang Tak Jelaskan Tempat Penahanan

Komnas HAM Kritik RUU Terorisme yang Tak Jelaskan Tempat Penahanan Komisioner Komnas HAM M Choirul Anam (kedua dari kiri) berbicara tentang RUU Terorisme. (Ari Saputra/detikcom)


0


0


0

Jakarta -
Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam meminta ada penjelasan detail tentang cara penanganan dan penangkapan di RUU Terorisme. Menurutnya, hal ini diperlukan untuk dapat mengukur akuntabilitas penahanan dan penangkapan.

“Hal ini tidak dinyatakan dengan tegas dalam RUU tersebut ketika menangkap dan menahan (terduga teroris), harus jelas tempatnya di mana,” ujar Choirul dalam diskusi ‘Revisi RUU Terorisme dalam Perspektif HAM’ di gedung Komnas HAM, Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (16/4/2018).

“Itu bisa dititipkan kok di polres, di polda, atau tempat-tempat yang memang ditunjuk dari awal, sehingga orang bisa mengukur itu akuntabilitasnya. Dalam konteks penahanan dan penanganan ini, akuntabilitasnya belum ada,” sambungnya.

Baca juga: Paripurna Perpanjangan RUU Terorisme, 366 Anggota DPR Absen
Data kekerasan yang dimiliki Komnas HAM dalam kasus terorisme disebabkan tidak diketahuinya tempat penahanan. Menurutnya, bila hal ini tidak dijelaskan, akan berpotensi terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.

“Potensial abuse of power, dan akan terjadi lagi tindakan yang diadukan ke Komnas HAM. Karena data dari Komnas HAM itu penyiksaan dan lain sebagainya itu muncul karena itu, salah satu permasalahannya karena tidak diketahui di mana ditahan,” tuturnya.

Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, Komnas HAM menemukan sejumlah peristiwa yang diduga terdapat dugaan pelanggaran HAM dalam penanganan tindak pidana terorisme di delapan provinsi. Pelanggaran itu berupa penganiayaan dan penyiksaan, sulitnya akses bagi kuasa hukum/keluarga tersangka terhadap tersangka, dan hak mendapatkan informasi kebebasan seseorang yang ditangkap dan ditahan.

Baca juga: Menhan Minta Peran TNI/Polri Dipertegas dalam Penindakan Terorisme
Data kekerasan itu adalah di Aceh 2 peristiwa, Jawa Tengah 11 peristiwa, DKI Jakarta 5, Jawa Barat 3, Sumatera Utara 1, Sulawesi Selatan 2, Nusa Tenggara Barat 2, Sulawesi Tengah 6, Jawa Timur 2, dan Kalimantan Timur 1 peristiwa.

Selain itu, Komnas HAM mempermasalahkan panjangnya waktu penahanan terhadap terduga teroris. Dalam RUU Terorisme Pasal 28 ayat 1 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, diberikan waktu 14 hari dan perpanjangan 7 hari.

“Menurut saya, dari segi waktu itu, kepanjangan. Standarnya, itu kalau tidak ada pemberitahuan atau macam-macam, itu 1×24 jam, baru diperpanjang lagi,” kata Choirul.

Pembahasan revisi UU No 15 Tahun 2003 diketahui telah dilakukan lebih dari setahun lalu. RUU Terorisme telah melewati beberapa kali masa sidang DPR. Sampai saat ini RUU Terorisme masih dalam pembahasan di Komisi I dan Komisi III DPR RI.

(idh/idh)

terorisme

disadur dari : https://news.detik.com/berita/d-3974544/komnas-ham-kritik-ruu-terorisme-yang-tak-jelaskan-tempat-penahanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>